05 Agustus 2026     Seni Budaya   

Pulau Penyengat dan Engku Puteri Raja Hamidah: Simbol Kehormatan Kesultanan Riau-Lingga


Pulau Penyengat dan Engku Puteri Raja Hamidah: Simbol Kehormatan Kesultanan Riau-Lingga
www.yafna.or.id

(Foto: Pulau Penyengat pulau bersejarah bagi temadun bangsa Melayu)

Oleh: Ahmad Azroi, S.Sos.,M.M.

Di hadapan Kota Tanjungpinang, hanya sekitar 10 hingga 15 menit perjalanan menggunakan pompong, terbentang sebuah pulau kecil yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah dunia Melayu. Luasnya tidak sampai tiga kilometer persegi, namun pengaruhnya melampaui batas wilayahnya. Pulau Penyengat bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan religi, melainkan juga sebagai tempat lahirnya gagasan, sastra, diplomasi, dan tradisi keilmuan yang memberi warna bagi perkembangan peradaban Melayu hingga masa kini.

Asal-usul nama Pulau Penyengat telah lama menjadi bagian dari cerita yang diwariskan masyarakat setempat. Tradisi lisan menyebutkan bahwa dahulu para pelaut yang singgah untuk mengambil air tawar sering diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat. Sejak saat itu pulau tersebut dikenal dengan nama Pulau Penyengat. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut secara historis, cerita ini telah menjadi identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat dan terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, Pulau Penyengat telah memiliki arti penting dari sisi pertahanan. Letaknya yang berada di mulut jalur pelayaran menuju pusat kerajaan menjadikan pulau ini sebagai kawasan strategis untuk mengawasi lalu lintas kapal di perairan Selat Malaka. Pada masa Raja Haji Fisabilillah, beberapa benteng pertahanan dibangun di kawasan ini sebagai bagian dari strategi menghadapi kekuatan VOC Belanda yang semakin memperluas pengaruhnya di wilayah Kepulauan Riau.

Perkembangan Pulau Penyengat tidak dapat dipisahkan dari pernikahan Sultan Mahmud Syah III dengan Engku Puteri Raja Hamidah, putri Raja Haji Fisabilillah. Engku Puteri bukan sekadar permaisuri kerajaan. Dalam banyak catatan sejarah, ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki kecerdasan politik, keteguhan sikap, dan pengaruh besar terhadap keberlangsungan Kesultanan Riau-Lingga. Perannya semakin terlihat setelah wafatnya Sultan Mahmud Syah III, terutama ketika mempertahankan regalia atau alat kebesaran kerajaan yang menjadi simbol legitimasi kekuasaan seorang sultan di tengah meningkatnya campur tangan kolonial Belanda.

Engku Puteri Raja Hamidah tumbuh dalam lingkungan keluarga pejuang. Ayahnya, Raja Haji Fisabilillah, dikenang sebagai salah seorang tokoh yang memimpin perlawanan terhadap VOC Belanda di kawasan Selat Malaka. Nilai-nilai keberanian, kehormatan, dan tanggung jawab terhadap negeri membentuk wataknya sejak usia muda. Karena itu, ketika kemudian menjadi permaisuri Sultan Mahmud Syah III, Engku Puteri tidak hanya menjalankan peran sebagai pendamping raja, tetapi juga tampil sebagai sosok yang memahami arti kedaulatan sebuah kerajaan.

Keteguhan itu mencapai puncaknya setelah Sultan Mahmud Syah III wafat. Di tengah semakin kuatnya campur tangan Belanda dalam menentukan arah pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, Engku Puteri menolak menyerahkan regalia Kesultanan kepada pihak yang menurut pandangannya tidak memiliki hak dan legitimasi adat. Dalam tradisi Melayu, regalia bukan sekadar mahkota, tombak, atau perhiasan kerajaan. Benda-benda tersebut merupakan lambang sahnya kedaulatan sebuah kerajaan. Selama regalia belum diserahkan, pelantikan seorang sultan dianggap belum memperoleh legitimasi adat secara sempurna. Sikap Engku Puteri membuat Belanda menghadapi hambatan politik yang tidak kecil dalam menjalankan rencana mereka mengendalikan suksesi Kesultanan.

Peristiwa tersebut menjadikan Engku Puteri Raja Hamidah dikenang sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Melayu. Ia menunjukkan bahwa mempertahankan marwah kerajaan tidak selalu dilakukan di medan perang. Dalam keadaan tertentu, keberanian diwujudkan melalui keteguhan menjaga prinsip dan menolak tunduk pada tekanan politik. Sikap inilah yang kemudian menjadikan nama Engku Puteri dihormati hingga sekarang, bukan hanya sebagai permaisuri Sultan Mahmud Syah III, tetapi juga sebagai penjaga kehormatan Kesultanan Riau-Lingga.

Tidak berlebihan apabila banyak masyarakat Melayu memandang Pulau Penyengat sebagai simbol marwah bangsa Melayu. Di pulau inilah Engku Puteri menjalankan perannya sebagai penjaga kehormatan kerajaan, sementara para ulama, cendekiawan, dan pujangga membangun tradisi ilmu pengetahuan yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Raja Ali Haji. Dengan demikian, Pulau Penyengat tidak hanya menyimpan jejak bangunan bersejarah, tetapi juga mewariskan nilai-nilai keberanian, harga diri, ilmu pengetahuan, dan kecintaan terhadap identitas Melayu yang tetap relevan hingga hari ini.

Dalam berbagai buku populer dan narasi wisata, Pulau Penyengat sering disebut sebagai "Pulau Mas Kawin". Sebutan tersebut merujuk pada kisah bahwa Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat kepada Engku Puteri Raja Hamidah sebagai mahar pernikahan mereka. Kisah ini begitu dikenal luas sehingga telah menjadi bagian dari identitas Pulau Penyengat dan sering disampaikan dalam berbagai tulisan maupun cerita masyarakat.

Namun ketika menelusuri sumber-sumber sejarah secara lebih mendalam, muncul ruang diskusi yang menarik. Sejumlah penelitian memang mengaitkan kisah tersebut dengan historiografi Melayu, termasuk Tuhfat al-Nafis, salah satu karya sejarah terpenting mengenai Kesultanan Johor-Riau-Lingga. Akan tetapi, sebagian sejarawan mengingatkan bahwa penyebutan Pulau Penyengat sebagai "mahar" belum sepenuhnya dapat dipastikan apabila hanya bersandar pada kutipan-kutipan sekunder. Mereka menilai bahwa diperlukan pembacaan langsung terhadap naskah asli atau edisi kritis Tuhfat al-Nafis untuk memastikan istilah yang sebenarnya digunakan oleh penulis pada masa itu.

Di sisi lain terdapat pula pandangan yang mempertanyakan penggunaan istilah "mas kawin" dari sudut sejarah pemerintahan Melayu. Beberapa peneliti dan tokoh keturunan Kesultanan Riau-Lingga berpendapat bahwa Pulau Penyengat kemungkinan lebih tepat dipahami sebagai kawasan yang dianugerahkan Sultan kepada Engku Puteri sebagai tempat kediaman, pusat aktivitas, atau bentuk penghormatan kepada keluarga Raja Haji Fisabilillah. Dalam perspektif ini, istilah "mahar" dipandang sebagai penyederhanaan yang muncul dalam tradisi lisan dan berkembang luas di masyarakat, meskipun status hukumnya sebagai mahar dalam pengertian fikih maupun administrasi kerajaan masih menjadi bahan kajian.

Perbedaan pandangan tersebut justru memperlihatkan bagaimana sejarah bekerja. Tidak semua peristiwa masa lampau dapat dijelaskan hanya melalui satu sumber atau satu penafsiran. Tradisi lisan, naskah klasik, arsip kolonial, dan penelitian modern sering kali saling melengkapi, bahkan tidak jarang menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Bagi dunia akademik, perbedaan seperti ini bukanlah kelemahan sejarah, melainkan bagian dari proses memahami masa lalu secara lebih utuh dan bertanggung jawab.

Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usul sebutan "Pulau Mas Kawin", satu hal yang tidak diperselisihkan adalah peranan Pulau Penyengat dalam membangun peradaban Melayu. Sejak awal abad ke-19, pulau ini berkembang menjadi pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda, pusat pendidikan Islam, tempat berkumpulnya ulama dan cendekiawan, sekaligus ruang tumbuhnya karya-karya sastra Melayu yang kelak memberi pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Dari lingkungan inilah lahir Raja Ali Haji, tokoh yang dikenang melalui Gurindam Dua Belas dan karya-karyanya tentang tata bahasa Melayu.

Kini Pulau Penyengat menjadi salah satu destinasi sejarah yang paling mudah dijangkau di Provinsi Kepulauan Riau. Dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, wisatawan hanya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan pompong untuk tiba di pulau ini. Setibanya di dermaga, berbagai situs bersejarah seperti Masjid Raya Sultan Riau, kompleks makam para sultan, Balai Adat, bekas istana, benteng pertahanan, serta rumah-rumah tua peninggalan kerajaan dapat dikunjungi dengan berjalan kaki atau menggunakan becak motor. Jarak antarsitus yang berdekatan membuat perjalanan sejarah terasa nyaman tanpa harus berpindah lokasi yang jauh.

Mengunjungi Pulau Penyengat memberikan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar menikmati bangunan-bangunan tua. Setiap jalan kecil, setiap makam, dan setiap dinding bangunan seolah mengingatkan bahwa sebuah pulau yang tidak begitu luas pernah menjadi pusat lahirnya pemikiran besar di dunia Melayu. Pengunjung tidak hanya diajak mengenal tokoh-tokoh kerajaan, tetapi juga memahami bagaimana ilmu pengetahuan, agama, sastra, dan tata pemerintahan berkembang secara berdampingan dalam kehidupan masyarakat.

Barangkali itulah daya tarik terbesar Pulau Penyengat. Sejarah di pulau ini tidak berhenti sebagai kumpulan tanggal dan nama tokoh, melainkan terus mengundang pertanyaan, penelitian, dan dialog. Kisah tentang Engku Puteri Raja Hamidah dan sebutan "Pulau Mas Kawin" menjadi salah satu contohnya. Ada yang menerimanya sebagai bagian dari tradisi sejarah Melayu, ada pula yang mengajaknya untuk dibaca kembali melalui naskah-naskah primer. Apa pun sudut pandangnya, Pulau Penyengat tetap berdiri sebagai warisan peradaban yang mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dengan pikiran yang terbuka dan sikap yang jujur terhadap setiap bukti yang tersedia.



  (AHM)     Dibaca 71 Kali


Total Kunjungan

Kunjungan Sekarang

Sedang Online

+

Tim Profesional

File Publikasi

Unit Yayasan