Masjid Raya Sultan Riau Penyengat: Jejak Utuh Peradaban Melayu
(Foto: Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, sekitar 20 tahun yang lalu)
Oleh: Ahmad Azroi, S.Sos.,M.M.
Di tepian Pulau Penyengat, sekitar 15 menit perjalanan dengan pompong dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, berdiri sebuah masjid yang telah menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Melayu-Islam. Masjid Raya Sultan Riau Penyengat bukan sekadar tempat menunaikan salat, tetapi juga ruang lahirnya pemikiran, kebudayaan, dan semangat kebangsaan yang kelak memberi warna bagi dunia Melayu. Siapa pun yang pertama kali melihat bangunannya akan langsung tertarik oleh kubah-kubah berwarna kuning dan hijau yang menjulang anggun di tengah pulau kecil yang sarat sejarah.
Sejarah masjid ini bermula pada tahun 1803 ketika Sultan Mahmud Syah III membangun sebuah masjid sederhana berbahan kayu di Pulau Penyengat. Beberapa dasawarsa kemudian, ketika jumlah jamaah semakin bertambah, Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman memprakarsai pembangunan kembali masjid dalam bentuk yang lebih besar dan megah. Renovasi besar itu dimulai pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau tahun 1832 Masehi dan dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat dari berbagai penjuru wilayah Kesultanan Riau-Lingga. Tradisi lisan menyebutkan bahwa semangat kebersamaan masyarakat saat itu begitu luar biasa hingga pembangunan fondasi masjid dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.
Salah satu kisah yang paling melekat dengan Masjid Raya Sultan Riau adalah penggunaan putih telur sebagai campuran bahan perekat bangunan. Ketika masyarakat datang membawa bahan makanan untuk para pekerja, jumlah telur yang disumbangkan sangat melimpah. Kuning telur dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi, sedangkan putih telurnya dicampurkan bersama kapur, pasir, dan tanah liat sebagai perekat dinding. Terlepas dari berbagai penjelasan teknis mengenai konstruksinya, kisah tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya Pulau Penyengat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Yang lebih penting daripada bahan bangunannya adalah makna di baliknya: sebuah masjid besar lahir dari sedekah, kerja sama, dan keikhlasan masyarakatnya.
Keindahan masjid ini tidak hanya terlihat dari warnanya yang mencolok, tetapi juga dari filosofi arsitekturnya. Bangunan utama memiliki 13 kubah berbentuk bawang dan jika dihitung bersama empat menaranya berjumlah 17, melambangkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam. Gaya arsitekturnya memadukan sentuhan Melayu, Timur Tengah, India, hingga Turki, mencerminkan luasnya jaringan budaya dan perdagangan yang pernah dimiliki Kesultanan Riau-Lingga. Setiap sudut bangunan menghadirkan kesan bahwa agama, seni, dan budaya dapat berjalan beriringan tanpa kehilangan jati dirinya.
Di dalam kompleks masjid tersimpan berbagai peninggalan berharga yang memperlihatkan betapa tingginya tradisi keilmuan masyarakat Melayu pada masa itu. Pengunjung dapat menemukan mushaf Al-Qur'an tulisan tangan karya Abdurrahman Stambul yang telah berusia lebih dari satu setengah abad. Selain itu terdapat pula berbagai naskah kuno serta benda-benda bersejarah yang menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat dahulu bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pendidikan Islam dan pengembangan bahasa Melayu. Tidak mengherankan apabila pulau kecil ini kemudian melahirkan banyak tokoh besar, termasuk Raja Ali Haji yang dikenal sebagai pelopor pembakuan bahasa Melayu modern.
Berkunjung ke Masjid Raya Sultan Riau juga sangat mudah dilakukan. Dari pusat Kota Tanjungpinang, wisatawan cukup menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan pompong selama sekitar 10–15 menit menuju Pulau Penyengat. Setibanya di pelabuhan pulau, masjid sudah tampak berdiri megah hanya beberapa langkah dari dermaga. Wisatawan juga dapat menyewa becak motor atau berjalan kaki untuk mengelilingi berbagai situs bersejarah lain yang letaknya saling berdekatan, sehingga satu kunjungan mampu menghadirkan pengalaman religi sekaligus wisata sejarah.
Suasana di Pulau Penyengat berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan besar maupun gedung bertingkat. Yang terdengar justru azan yang bergema, semilir angin laut, dan keramahan masyarakat yang masih menjaga adat Melayu. Banyak pengunjung memilih meluangkan waktu lebih lama di serambi masjid untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, atau sekadar menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di kota-kota besar. Pengalaman seperti ini membuat perjalanan ke Penyengat terasa lebih bermakna daripada sekadar berfoto di bangunan bersejarah.
Berziarah ke Masjid Raya Sultan Riau Penyengat bukan hanya tentang melihat bangunan tua yang masih kokoh berdiri. Perjalanan ini mengajak setiap orang memahami bagaimana iman mampu melahirkan peradaban, bagaimana gotong royong dapat menghasilkan karya yang bertahan hampir dua abad, dan bagaimana ilmu pengetahuan tumbuh subur di tengah masyarakat Melayu. Ketika meninggalkan Pulau Penyengat, banyak orang membawa pulang lebih dari sekadar dokumentasi perjalanan. Mereka membawa cerita, pelajaran, serta rasa bangga bahwa di ujung utara Nusantara pernah berdiri sebuah pusat peradaban Islam yang jejaknya masih hidup hingga hari ini.
(AHM) Dibaca 64 Kali

Ahmad Azroi, S.Sos., M.M.
Ketua Yayasan
Sekapur Sirih
Unit Yayasan
Olce Bimbel
Orca Team
Sanggar Budak Pulau
Yafna Consulting
Yafna Care
Orca Delicious PantryBerita Terbaru
-
Rilis: 02 September 2026 | Dilihat: 148
Student Leadership Training 2026: Membangun Pemimpin Muda, Menguatkan Masa Depan Sekolah -
Rilis: 10 Agustus 2026 | Dilihat: 1257
Pendaftaran Dibuka: Bimtek Penguatan Tata Kelola Keuangan -
Rilis: 07 Agustus 2026 | Dilihat: 78
Milad ke-3 OLCE BIMBEL: Komitmen untuk Pendidikan Berkualitas -
Rilis: 05 Agustus 2026 | Dilihat: 71
Pulau Penyengat dan Engku Puteri Raja Hamidah: Simbol Kehormatan Kesultanan Riau-Lingga -
Rilis: 04 Agustus 2026 | Dilihat: 65
Masjid Raya Sultan Riau Penyengat: Jejak Utuh Peradaban Melayu
Total Kunjungan Kunjungan Sekarang Sedang Online
+
Tim Profesional File Publikasi Unit Yayasan |
