Dari Mengatur Orang ke Memberdayakan Tim
www.yafna.or.id
(Foto: Silaturahmi Direktur Yafna Consulting ke Ponpes Syekh Zainudin Nahdhatul Wathan Kab. Bintan, 3 Maret 2026)
Oleh: Ahmad Azroi, S.Sos.,M.M.
Banyak orang masih membayangkan pemimpin sebagai sosok yang serba tahu, memberi instruksi, lalu memastikan semua berjalan sesuai perintah. Gaya ini dikenal sebagai command control, efektif untuk situasi darurat atau pekerjaan yang sangat terstruktur. Tapi ketika organisasi makin kompleks dan tim makin beragam, pendekatan ini sering terasa kaku. Orang bekerja sekadar menjalankan, bukan memahami atau memiliki.
Dalam kajian kepemimpinan modern, muncul pergeseran ke arah empowerment. Intinya bukan lagi mengatur detail pekerjaan orang, tapi menciptakan kondisi agar orang bisa berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab. Ini sejalan dengan teori self determination yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan agar seseorang termotivasi secara intrinsik.
Pemimpin yang memberdayakan tidak kehilangan kontrol, justru mengubah bentuk kontrolnya. Dari mengawasi proses menjadi mengarahkan tujuan. Dari memastikan setiap langkah benar menjadi memastikan arah besar tidak melenceng. Ini membutuhkan kejelasan visi dan kepercayaan pada tim. Tanpa dua hal itu, empowerment hanya jadi jargon.
Perubahan ini juga berkaitan dengan cara memandang manusia. Dalam pendekatan lama, orang sering dianggap perlu diawasi agar bekerja dengan baik. Dalam pendekatan baru, manusia dipandang punya potensi berkembang jika diberi ruang. Perspektif ini dekat dengan teori humanistik dalam psikologi yang percaya bahwa setiap individu punya dorongan untuk tumbuh.
Namun, memberdayakan bukan berarti melepas begitu saja. Ada proses penting seperti coaching, feedback, dan pembelajaran berkelanjutan. Pemimpin hadir sebagai fasilitator yang membantu tim menemukan solusi, bukan selalu memberi jawaban. Ini membuat tim lebih tahan terhadap perubahan karena mereka terbiasa berpikir dan beradaptasi.
Dalam praktik sehari hari, perubahan ini bisa dimulai dari hal sederhana. Misalnya mengganti kalimat perintah menjadi pertanyaan reflektif. Dari mengatakan kerjakan ini menjadi menurutmu cara terbaik apa. Dari langsung mengoreksi menjadi mengajak diskusi. Hal kecil seperti ini pelan pelan mengubah budaya kerja.
Transformasi dari command control ke empowerment bukan sekadar teknik memimpin, tapi perubahan cara berpikir. Memimpin bukan lagi tentang menjadi pusat, melainkan menjadi penggerak. Ketika tim merasa dipercaya dan dilibatkan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tapi juga tumbuh bersama organisasi.
(AHM) Dibaca 58 Kali

Ahmad Azroi, S.Sos., M.M.
Ketua Yayasan
Sekapur Sirih
Berita Terbaru
-
Rilis: 26 Mei 2026 | Dilihat: 8
Belajar dari Habibie: Menghadapi Krisis dengan Gemilang -
Rilis: 04 Mei 2026 | Dilihat: 131
Kepemimpinan Bukan Jabatan, tapi Tanggung Jawab yang Dipraktikkan -
Rilis: 04 Mei 2026 | Dilihat: 59
Dari Mengatur Orang ke Memberdayakan Tim -
Rilis: 04 Mei 2026 | Dilihat: 34
Kepemimpinan Pemuda sebagai Investasi Jangka Panjang Bangsa -
Rilis: 02 Mei 2026 | Dilihat: 54
Fidyah yang Menguatkan: Ketika Kebaikan Menjadi Pengganti yang Bermakna
Total Kunjungan Kunjungan Sekarang Sedang Online
+
Tim Profesional File Publikasi Unit Yayasan |

Olce Bimbel
Orca Team
Sanggar Budak Pulau
Yafna Consulting
Yafna Care